Selasa, 17 Mei 2016

IBU HARUS BERBOHONG

Kasih ibu sepanjang jalan kasih anak sepanjang galah

1. Ketika mau makan, jika makanan kurang, Ia akan memberikan makanan itu kpd anaknya dan berkata, makan lah ibu tdk lapar
2. Saat makan, Ia selalu menyisihkan ikan/daging untuk anaknya dan berkata, ibu tdk suka ikan/daging, makanlah nak
3. Tengah mlm saat dia sdg menjaga anaknya yg sakit, Ia berkata,Istirahatlah nak, ibu blm ngantuk
4. Saat anak sudah bekerja, mengirimkan uang untuk ibu. Ia berkata, Simpanlah untuk keperluanmu nak, ibu masih punya uang.
5. Saat anak sdh sukses, menjemput ibunya utk tinggal di rumah besar, Ia lantas berkata, Rumah tua kita sangat nyaman, ibu tidak terbiasa tggl di sana.
6.Saat menjelang tua, ibu sakit keras, anaknya menangis, ttp ibu msh bs tersenyum sambil berkata, Jangan menangis nak, ibu tidak apa apa.Ini adalah kebohongan terakhir yg dibuat ibu.

Tidak peduli seberapa kaya kita, seberapa dewasanya kita, ibu slalu menganggap kita anak kecilnya, mengkhawatirkan diri kita tp tdk prnh membiarkan kita mengkhawatirkan dirinya.
Smoga smua anak di dunia ini bs menghargai setiap kebohongan seorang ibu...karena Beliaulah malaikat nyata yg dikirim TUHAN untuk menjaga kita Berbahagialah orang2 yang masih memiliki ibu dan bahagiakanlah ibu selagi masih hidup.

Jumat, 27 November 2015

Pendingin Ruangan

PRINGGODANI TECNIK

Contac person  GIHARTONO
             081 398 025 907

MELAYANI
- SERVI'S   AC
- BONGKAR PASANG
- JUAL BELI AC BARU DAN BEKAS

SOLUSI SEGALA KERUSAKAN PERANGKAT PENDINGIN RUANGAN ANDA
Sebuah AC memiliki komponen yang saling berhubungan satu sama yang lain. Hal ini sudah pernah kita bahas pada artikel sebelumnya tentang prinsip dan cara kerja mesin pendingin. Namun, kali ini kita akan membahas beberapa hal yang sedikit berbeda dengan topik tersebut walaupun umumnya prinsip kerja harus dipahami untuk mampu menganalisa kerusakan yang terjadi.
Terdapat beberapa kerusakan umum yang paling sering ditemukan pada sistem pendingin ruangan jenis split. Kerusakan yang umum ditemukan antara lain :
  1. AC Tidak Dingin Atau Terlalu Dingin
  2. AC Bocor Atau Air Menetes Ke Ruangan
SERAHKAN KAMI segala permasalahan ac pada kami

Minggu, 10 Mei 2015

JABANG TETUKO

Budaya Jawa kadung mashyur memiliki kekayaan dan keunikan tersendiri yang bisa disimak dari berbagai sisi yang tidak akan habis ditelusuri. Salah satu yang cukup menarik untuk diulas kali ini adalah sastra Jawa. Ribuan cerita dan kisah legenda di Sastra Jawa tidak hanya menarik untuk dibaca, namun juga kerap memiliki makna dan filosofi tertentu yang terkandung di dalamnya. Semisal kisah bertajuk jabang tetuko.
Jabang Tetuko sejatinya merupakan kisah klasik pewayangan Jawa yang sangat legendaris yang menceritakan tentang lahirnya tokoh wayang bernama Gatotkaca. Gatotkaca adalah seorang tokoh dalam kisah Mahabharata yang dikenal sebagai putra Bimasena dari keluarga Pandawa.
Berawal dari kisah raja raksasa bernama Kala Pracona yang terpesona atas kecantikan Dewi Supraba dan berusaha untuk mempersuntingnya. Namun para Dewa tidak menyetujui keinginan tersebut dan Kala Pracona pun marah dan mengerahkan ribuan pasukan untuk menggempur kahyangan.
Para dewa di kahyangan pun tak sanggup membendung kekuatan Kala Pracona dan terpaksa bertahan didalam kahyangan sambil mencari sosok pahlawan yang dapat mengalahkan Kala Pracona dan pasukannya.
Di sisi lain ada seorang bayi yang bernama Tetuko yang sedang mengalami nasib tragis dimana ari-arinya tidak dapat dipisahkan dari tubuhnya. Para dewa pun sepakat untuk membantu sang bayi dengan syarat Tetuko harus melawan Kala Pracona.
Tetuko pun diceburkan kedalam kawah Candradimuka di Gunung Jamurdipa. Para dewa kemudian melemparkan berbagai jenis senjata pusaka ke dalam kawah tersebut. Beberapa saat kemudian Tetuko pun muncul dengan wujud laki-laki dewasa lengkap dengan segala jenis pusaka para dewa-dewa tersebut.
Ia pun dihadiahkan seperangkat pakaian pusaka yaitu Caping Basunanda, Kotang Antrakusuma, dan Terompah Padakacarma. Sejak saat itu pula Tetuko berganti nama menjadi Gatotkaca. Dengan pakaian tersebut, Gatotkaca pun dapat terbang secepat kilat menuju kerajaan Trabelasuket dan mengalahkan Kalapracona.
Jabang Tetuko merupakan kekayaan sastra budaya Jawa yang masih dipertahankan hingga saat ini. Dahulu cerita ini dipentaskan secara sederhana. Namun saat ini seiring dengan perkembangan zaman, pementasan pun di pentaskan dengan cara yang lebih modern tanpa mengurangi nilai aslinya seperti dari tata musik, panggung, sound dan lain-lain.
Pementasan Jabang Tetuko juga merupakan pementasan yang begitu terkenal bahkan hingga di mancanegara. Tidak heran, salah satu ragam kebudayaan Indonesia ini begitu dibanggakan dan dijaga kelestariannya. Jabang Tetuko juga merupakan contoh kreativitas budaya yang mumpuni agar bertahan dan tetap ada ditengah beragam arus moderenitas dan globalisasi yang ada.

Senin, 04 Mei 2015

MAKNA HURUF JAWA

Huruf jawa yang berjumlah 20 dari Ha sampai nga meliputi hanacaraka, data-sawala, pada jayanya, magha-batanga menurut cerita turun temurun diceritakan dalam kisah AJISAKA. Konon makna dari huruf jawa hanacaraka yaitu bahwa aksara Jawa ini diciptakan oleh Ajisaka untuk mengenang kedua abdinya yang setia. Dikisahkan Ajisaka hendak pergi mengembara, dan ia berpesan pada seorang abdinya yang setia agar menjaga keris pusakanya dan mewanti-wanti: janganlah memberikan keris itu pada orang lain, kecuali dirinya sendiri: Ajisaka. Setelah sekian lama mengembara, di negeri perantauan, Ajisaka teringat akan pusaka yang ia tinggalkan di tanah kelahirannya. Maka ia pun mengutus seorang abdinya yang lain, yang juga setia, agar dia pulang dan mengambil keris pusaka itu di tanah leluhur. Kepada abdi yang setia ini dia mewanti-wanti: jangan sekali-kali kembali ke hadapannya kecuali membawa keris pusakanya. Ironisnya, kedua abdi yang sama-sama setia dan militan itu, akhirnya harus berkelahi dan tewas bersama: hanya karena tidak ada dialog di antara mereka. Bukankah sebenarnya keduanya mengemban misi yang sama: yaitu memegang teguh amanat junjungannya? Dan lebih ironis lagi, kisah tragis tentang dua abdi yang setia ini.

dengan tulisan sebagai berikut

ha na ca ra ka Dikisahkan tentang dua abdi setia 
da ta sa wa la Keduanya terlibat perselisihan dan akhirnya berkelahi
pa da ja ya nya Mereka sama-sama kuat dan tangguh ( sakti )
ma ga ba tha nga Akhirnya kedua abdi itu pun tewas bersama 

Sedangkan menurut ki Sarodjo menuliskan arti makna dari huruf jawa hanacaraka
Baginya, rangkaian huruf didalam carakan jawa itu bukannya menambatkan sesuatu kisan, melainkan berupa suatu ungkapan filosofis yang berlaku universal, sangat dalam artinya, membawa kita tunduk dan takwa kepada Tuhan. ( Sarodjo, 1982 )

Adapun arti huruf jawa huruf jawa hanacaraka tersebut menurut ki sarodjo sebagai berikut; Hana-caraka ( Ada utusan/ Ca ra ka : cipta rasa karsa ), Data-sawala ( datan suwala : tidak menentang, tidak keberatan/ sumerah), Padha-Jayanya ( sama-sama sukses ), Magha-bathanga ( Mudhi/ meletakan pada tempat yang tinggi, wujud kesaksian ; maga = meletakan sesuatu di paga ). Hal tersebut mengingatkan kepada potensial amal yang disimpan ditempat yang tinggi, illiyin. Sebagai manusia sudah selayaknya patuh dan serta menyerahkan problema hidup padaNya disaat segala upaya sudah dilakukan, hal itu tidak bertentangan dongan kodrat manusia itu sendiri sebagai mahluk ciptaanNya yang berkewajiban memenuhi tugas-tugasnya didunia. Disini manusialah yang membutuhkan Tuhannya bukan sebaliknya.

Aksara Jawa ha-na-ca-ra- ka mewakili spiritualitas orang Jawa yang terdalam: yaitu kerinduannya akan harmoni dan ketakutannya akan segala sesuatu yang dapat memecah-belah harmoni. 

•Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada ” utusan ” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaanNya).

• Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data ” saatnya ( dipanggil ) ” tidak boleh sawala ” mengelak ” manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.

• Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Ilahi) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Maksdunya padha ” sama ” atau sesuai, jumbuh, cocok ” tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu ” menang, unggul ” sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan ” sekedar menang ” atau menang tidak sportif.

• Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.

Arti dan Makna dari Huruf HANACARAKA

Ha Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
Na Nur candra, gaib candra, warsitaning candara – pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi
Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi – arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
Ra Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani
Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana – hasrat diarahkan untuk kesajeteraan alam
Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa adanya
Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang
     hidup   
Sa Sifat ingsun handulu sifatullah – membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan
Wa Wujud hana tan kena kinira – ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa
       batas
La Lir handaya paseban jati – mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi
Pa Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah
Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane – Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
Ja Jumbuhing kawula lan Gusti – Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya
Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas titah/kodrat Illahi
Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – memahami kodrat kehidupan
Ma Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin/mantap dalam menyembah Ilahi
Ga Guru sejati sing muruki – belajar pada guru nurani
Ba Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam
Tha Tukul saka niat – sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan
Nga Ngracut busananing manungso – melepaskan egoisme pribadi manusia

Demikianlah arti makna dari huruf jawa hanacaraka yang sarat makna tersebut menjadi sarana dalam acuan hidup didunia sebagai manusia didunia baik manusia dengan Tuhannya atau hubungan dengan manusia-manusia lainnya sebagai mahluk sosial yang saling membutuhkan ibarat tangan kanan pasti membutuhkan tangan kiri begitupun sebaliknya. diranngkum dari berbagai sumber.


Senin, 02 September 2013

HURUF JOWO

ARTI & MAKNA HURUF JOWO

Ha :Hana hurip wening suci=Adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci.
Na :Nur candra, gaib candra, warsitaning candara=
Pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi.
Ca :Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi= Arah dan
tujuan pada Yang Maha Tunggal
Ra :Rasaingsun handulusih = Rasa cinta sejati muncul
dari cinta kasih nurani
Ka :Karsaningsun memayuhayuning bawana = Hasrat
diarahkan untuk kesajetraan alam
Da :Dumadining dzat kang tanpa winangenan =
Menerima hidup apa adanya
Ta :Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa = Mendasar,
totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup
Sa :Sifat ingsun handulu sifatullah= Membentuk kasih
sayang seperti kasih Tuhan
Wa :Wujud hana tan kena kinira = Ilmu manusia
hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas
La :Lir handaya paseban jati = Mengalirkan hidup
semata pada tuntunan Illahi
Pa :Papan kang tanpa kiblat = Hakekat Allah yang
ada disegala arah
Dha :Dhuwur wekasane endek wiwitane = Untuk bisa
diatas tentu dimulai dari dasar
Ja :Jumbuhing kawula lan Gusti = Selalu berusaha
menyatu, memahami sifat dan kehendak- Nya
Ya :Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi
= Percaya dan Yakin atas titah / kodrat Illahi
Nya :Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki =
Memahami kodrat kehidupan
Ma :Madep mantep manembah mring Ilahi = Yakin/
mantap dalam menyembah Ilahi
Ga :Guru sejati sing muruki = Belajar pada guru nurani
Ba :Bayu sejati kang andalani = Menyelaraskan diri
pada gerak alam
Tha :Tukul saka niat = Sesuatu harus dimulai dan
tumbuh dari niat yang suci
Nga :Ngracut busananing manungso = Melepaskan
egoisme pribadi manusia.
Adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci -
pengharapan manusia hanya
selalu ke sinar Illahi - satu arah dan tujuan pada Yang
Maha Tunggal - rasa cinta sejati muncul dari cinta
kasih nurani - hasrat diarahkan untuk kesajetraan
alam - menerima hidup apa adanya - mendasar,
totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup
- membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan - ilmu
manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa
tanpa batas - mengalirkan hidup semata pada
tuntunan Illahi - Hakekat Allah yang ada disegala arah
- Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar - selalu
berusaha menyatu, memahami sifat dan kehendak
Nya – percaya dan yakin atas titah / kodrat Illahi -
memahami kodrat kehidupan - yakin / mantap dalam
menyembah Ilahi - belajar pada guru nurani -
menyelaraskan diri pada gerak alam - sesuatu harus
dimulai - tumbuh dari niat yang suci - melepaskan
egoisme pribadi manusia

BIMO SUCI



Lakon ini amat digemari di kalangan kasepuhan
karena mengandung permenungan mendalam
tentang asal dan tujuan hidup manusia (sangkan
paraning dumadi) dan menjawab kerinduan hidup
dalam perjalanan rohani orang jawa untuk bersatu
dengan Tuhan (manunggaling kawulo Gusti; curiga
manjing warangko).
Begitu disenangi dan diulang-ulang sebagai bahan
permenungan, maka kisah ini memilik variasi-variasi
bahkan menyimpang dari lakon awalnya, tergantung
siapa yang menyalin kisah ini, siapa dalang yang
memainkan lakon dalam pertunjukan wayang.
Poerbotjaroko, tahun 1940 menyelidiki variasi-variasi
naskah dan menemukan kurang lebih 29 buah naskah
Bima Suci. 19 buah naskah tersimpan di Universitas
Leiden Belanda.
Dalam disertasinya untuk memperoleh gelar doctor
tahun 1930, Prijohoetomo membandingkan dua kisah :
Nawaruci dan Dewaruci. Kitab Nawaruci yang juga
dikenal dengan nama Sang Hyang Tat-twajnana
(kitab tentang hakekat hidup) ditulis oleh Empu
Siwamurti (th. 1950-an) dengann latar belakang
budaya Kerajaan Majapahit. Pada jaman itu mistik
Islam mulai masuk dalam budaya Jawa, dan kisah
Nawaruci digubah menjadi lakon Dewaruci (dengan
dimasuki unsur-unsur Islam) dan dipentaskan dalam
dunia perwayangan.
Alur ceritera Dewaruci/Bima Suci dipengaruhi oleh
kisah Markandeya dari India. Di kisahkan Markandeya
mengarungi kedalam samudera dan berjumpa dengan
anak kecil. Anak kecil itu bernama Narayana, jelmaan
dari Dewa Wisnu. Narayana meminta Markandeya
masuk dalam tubuhnya untuk menyaksikan seluruh isi
alam semesta. Dalam kisah ini tokoh Bima tidak ada.
Dari berbagai kisah Bima Suci yang bervariatif itu
dapat ditemukan benang merahnya.
Alkisah, Bima atas perintah gurunya (Durno) mencari
“Banyu Perwitasari”. Dalam perjalanan mencari air
kehidupan, Bima menuju hutan Tikbrasara (berarti
landeping cipta) yang terletak di gunung ReksaMuka
(yang artinya Mata). Di hutan ini Bima dihadang oleh
dua raksasa Rukmuka (berarti kamukten) dan
Rukmokala (yang berarti Kamulyan). Bima mampu
mengalahkan ke dua raksasa itu.
Untuk memperoleh “inti sari pengetahuan
sejati” (Perwitasari), Bima harus melalui samadi (yang
dilambang dengan hutan Tibaksara dan gunung
Reksomuka =Mata/pemahaman yang mendalam).
Bima tidak bisa mencapai titik penyatuan mata batin
dalam samadi kalau tidak ‘membunuh’ pikiran tentang
kamukten dan kamulyan.
Kisah selanjutnya, Bima tahu bahwa air ‘perwitasari’
tidak terletak di hutan Tikbrasara yang ada di gunung
Reksamuka, tetapi di dasar samudera. Maka
perjalanan dilanjutkan ke dasar samudra (samudra
pangaksama=pengampunan). Dalam samudra
bertarung dengan naga (symbol kejahatan/
keburukan) dan Bima berhasil membunuhnya.
Untuk memperoleh air perwitasari tidak cukup dengan
membuang kamukten dan kamulyan tetapi harus
juga berani mengampuni kepada orang-orang yang
bersalah dan membunuh kejahatan yang ada dalam
dirinya (masuk samudra pengampunan dan
membunuh naga kejahatan).
Setelah melampaui berbagai rintangan, akhirnya Bima
ketemu Dewaruci, yang persis dengan dirinya namun
dalam ukuran kecil. Bima masuk ke badan Dewaruci
melalui telinga kanan dan di dalam diri Dewaruci,
Bima melihat seluruh isi semesta alam.
Bima dengan samadi secara benar : menutup mata,
mengatur nafas, konsentrasi dengan pikiran dan
perasaan yang bersih (Cipta Hening). Dalam samadi
ini, Bima menerima Terang atau wahyu sejati dalam
samadi: “manunggaling kawula gusti”, kesatuan
manusia dengan Tuhan. Dalam jati diri terdalam,
manusia bersatu dengan Tuhan. Kemanunggalan ini
yang menjadikan manusia mampu melihat hidup
yang sejati. Dalam istilah kejawen: Mati sakjroning
urip, urip sakjroning mati. Inilah perjalanan rohani
untuk masuk dalam “samudera menanging kalbu”.

WETON DAN SEMEDI



PUASA WETON/HARI KELAHIRAN

PUASA WETON
Dalam bahasa Jawa “Weton” berasal dari kata dasar
“Wetu” yang bermakna “keluar” atau lahir. Kemudian
mendapat akhiran –an yang membentuknya menjadi
kata benda. Yang disebut dengan weton adalah
gabungan antara hari dan pasaran saat bayi dilahirkan
kedunia.
Misalnya Senin Pon, Rabu Wage, Jumat Legi
atau lainnya. Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon adalah
nama-nama pasaran.
pengertian Puasa Weton adalah puasa yang
dilakukan pada hari kelahiran berdasarkan
perhitungan kalender Jawa yang berputar selama 35
hari. Artinya diperingati setiap 35 hari sekali. Berbeda
dengan acara ulang tahun yang diperingati setahun
Jadi
sekali.
Amalan Puasa Weton merupakan ajaran mulia dari
para leluhur, guna menghayati dan menghargai
kelahirannya diri kita ke alam dunia ini. Falsafah
sederhana puasa weton ini adalah hari lahir
merupakan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Jadi
pada hari tersebut, kembali kita mengingat kasih
Tuhan yang begitu besar dalam hidup kita. Dengan
harapan, agar kita ingat bahwa lahirnya manusia
dimuka bumi ini membawa kodrat. Kalau dalam istilah
Quran,
diturunkannya manusia dimuka bumi ini
adalah sebagai khalifah / pemimpin (Al-Baqarah: 30).
Layaknya sebagai seorang khalifah adalah membawa
berkah dan rahmat bagi alam semesta. Bukan
untuk merusak apalagi membinasakan alam atau
sesama manusia.
Setiap diri yang selalu ingat kepada kodratnya ini
maka akan menjadi pribadi-pribadi yang mulia,
bijaksana dan penuh kasih sayang kepada sesama
dan seluruh alam. Maka kehidupannya akan
senantiasa dalam lindungan dan penjagaan Tuhan
Yang Maha Kuasa.
Amalan puasa Weton memang tidak ada tuntunan
langsung dari Rasulullah. Sebab ini adalah salah satu
cara para leluhur Jawa berpuasa. Tidak ada hubungan
dengan aliran agama tertentu. Jadi boleh diamalkan
oleh semua orang, apapun agama dan keyakinannya.
Walaupun demikian sesungguhnya amalan ini tersirat
dari perilaku puasa Rasulullah Muhammad SAW. Anda
bisa simak hadist tentang puasa Sunah Senin-Kamis.
Seperti hadist berikut ini.
Nabi ditanya tentang puasa hari Senin lalu beliau
menjawab, “Itu adalah hari dimana aku dilahirkan,
dan hari dimana aku diutuskan sebagai Nabi, atau
dimana diturunkannya wahyu pertama padaku”. (HR.
Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i, sanadnya shahih).
Dari Hadist tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa
dalam Islam boleh hukumnya mengkhususkan ibadah
pada hari tertentu yang dianggap memiliki arti
istimewa (baik). Juga diperbolehkan memperingati
hari lahir dengan berpuasa. Atau beribadah sunnat
lainnya karena ittiba’ (mengikuti) kepada Nabi SAW
saat hari kelahirannya. Dan ini tidak termasuk
kategory bid’ah yang dilarang seperti yang sering
dituduhkan segelintir golongan umat Islam yang
mengaku-aku pengikut sunnah.
Dalam kaitannya dengan weton, orang Jawa memiliki
tradisi yang disebut “selapanan”, yaitu memperingati
weton kelahiran, yang berputar selama 35 hari itu
Ritual Weton
dengan melakukan lelaku prihatin. Misalnya dengan
lelaku berpuasa “ngapit”, mutih, melek (tidak tidur)
dan menyediakan sesaji sebagai bentuk rasa syukur
kepada Tuhan YME.
Yang dimaksud dengan Puasa Ngapit adalah berpuasa
3 hari, yaitu pada hari weton, ditambah 1 hari sebelum
dan sehari
sesudahnya. Ada pula yang cukup dengan
ritual Mutih, yaitu selama beberapa hari hanya makan
nasi putih dan air putih tawar saja tanpa puasa, jadi
boleh makan-minum kapan saja. Ada juga lelaku
puasa 3 hari sebelum hari weton, 5 hari sebelum
weton dan berbagai jenis cara puasa lainnya.
Adapula ritual melek (tidak tidur) selama 24 jam yang
dimulai dari saat Matahari terbenam saat masuk hari
wetonnya. Dan diakhiri ketika matahari terbenam
dihari wetonnya. Sambil menghidangkan sesaji
berupa variasi 4 warna bubur dan sesaji lainnya yang
memiliki arti simbolik yang luhur.
Dan masih ada berbagai macam jenis tatacara ritual
lainnya yang berkembang di masyarakat dalam
rangka memperingati Weton Kelahiran ini. Walaupun
tatacara berbeda-beda tetapi intinya sama yaitu
sebagai bentuk lelaku prihatin (riyadhoh). Acara ini
sangat jauh berbeda dengan acara ulang tahun jaman
sekarang,
yang cenderung bernuansa hura-hura
bahkan suka cita yang berlebihan dan mengumbar
perbuatan asusila.
Adanya perbedaan amalan-amalan lelaku dalam
memperingati weton tidak perlu diperdebatkan. Sebab
tatacara
lelaku dan amalan sangat bergantung
dengan kondisi diri dan adat yang berkembang di
masyarakat.
Bagi mereka yang tinggal di desa nan asri masih
banyak berbagai macam pepohonan hijau dan sungai
yang bersih, dalam memperingati weton akan
membuat berbagai macam sesaji berupa lauk-pauk
hasil dari sawah ladangnya. Seperti nasi golong, daun
jati, ikan teri, dan lain sebagainya. Tentu saja mereka
tidak merasa kesulitan untuk mendapatkan semua
bahan-bahan sesaji tersebut. Tetapi bagi masyakarat
kota, yang tinggal di wilayah yang dikelilingi gedung-
gedung beton, jarang ada pepohonan, sungai-sungai
yang mengalir pun telah tercemar limbah, tiada lagi
ikan yang hidup. Akan kesulitan bila untuk
memperingati weton sebagaimana tradisi di
pedesaan, setiap 35 hari sekali harus menyediakan
berbagai macam sesaji dari alam. Maka biasanya
tatacara memperingati weton ini setiap kaum adat
masyakarat bisa berbeda-beda.
Begitu pula dengan tata amalan Puasa. Bagi mereka
yang kehidupannya sudah dilonggarkan dari urusan
duniawi akan lebih ringan dalam menjalankan puasa
berhari-hari atau ritual tidak tidur semalam suntuk.
Namun bagi mereka yang setiap hari masih harus
bekerja keras untuk menghidupi keluarga, anak-istri,
akan sangat susah untuk melakukan puasa berhari-
hari semacam itu. Sementara ia harus dituntut
produktifitas kerja yang tinggi bila tidak ingin dipecat
dan kehilangan pekerjaan atau mata pencahariannya.
Maka amalan puasa weton pun bervariasi,
disesuaikan dengan kondisi diri sang pengamalnya.
Yang penting tidak meninggalkan makna yang
sebenarnya dari ritual weton.
Di kalangan masyarakat muslim dan pesantren, puasa
weton ini biasanya dilakukan lebih dari 1 hari, ini
untuk memberi solusi bagi mereka yang wetonnya
jatuh pada hari-hari yang dilarang berpuasa di hari-
hari tertentu seperti hari Jumat tanpa disertai puasa
hari yang lain (Al Hadist). Dan itu sah-sah saja. Tidak
ada sesepuh yang melarangnya. Selama suatu tradisi
membawa manfaat baik, memang harus dilestarikan.
Dari penghayatan dan pengamalan ritual weton yang
luhur ini tentu akan membawa dampak baik bagi
para pengamalnya. Antara lain :
*Manfaat Ritual Weton :
*Sebagai tanda syukur kepada Tuhan YME dan
rasa terimakasih kepada kedua orang tua.
**Meningkatkan iman kepada Tuhan, dan
berbakti kepada orang tua.
***Sebagai salah satu momen untuk berintropeksi
diri, ingat kembali kepada kodrat dan tugas
sebagai manusia di muka bumi.
****Kembali mengenal setiap unsur yang menyertai
diri manusia hidup dimuka bumi ini, yaitu para
Sedulur Sejati. Ada pula yang mengartikan
Sedulur Papat Kalimo Pancer.
InsyaAllah, dari pengalaman telah terbukti
dapat membawa dampak baik bagi kerejekian
para pengamalnya. Akan membuka pintu
rejeki yang luas dari segala penjuru mata
angin.
*****Diberikan keselamatan dari segala macam
bahaya yang nyata maupun magis (sihir).
Dan berbagai manfaat positif lainnya sesuai
dengan penghayatan yang bisa dicapai oleh
para pengamalnya.
Semua bisa terjadi bila semata-mata ada
rahmat dari Tuhan Yang Maha Welas Asih.
Demikian tentang kajian Puasa weton. Semoga
bermanfaat untuk pembaca semua. Salam
Ilmu Sejati,Rahayu...Rahayu...Rahayu...Nuwun.

TATA CARA SEMEDI/MEDITASI

Semedi ( Meditasi )
Banyak istilah yang bisa dipakai untuk
menggambarkan perilaku khas ini. Semedi kata orang
Jawa. Meditasi. Maladihening. Neng, ning, nung.
Kotemplasi. Tafakur. Dan…..mungkin masih ada banyak
istilah yang maksudnya sepadan.
Bermacam cara orang melakukan meditasi. Berbagai
tujuan pula yang hendak diraih. Untuk kali ini kita
akan berbincang dengan memfokuskan pada tiga hal
yaitu pencarian kesejatian diri, alam gaib dan
‘penemuan’ dengan “Sang Maha Ada”.
Saya kutip dulu dari ajaran Wirid / Semedi
MALADIHENING yang diajarkan Eyang Guru saya,demikian
tatacaranya :
1. Posisi badan telentang menghadap ke atas, seperti
mau tidur. Jangan ada anggota badan yang posisinya
kurang nyaman. Seluruh anggota badan “jatuh”
menempel di pembaringan tanpa ada penahanan
sedikitpun. Seluruh otot dan syaraf harus rileks atau
loss. Bisa juga dipakai posisi duduk bersila.
2. Tangan sedekap atau ’sendakep’ dengan posisi
lengan atas tetap menempel di lantai/tempat
berbaring sementara lengan bawah diletakkan di atas
dada. Jari-jari tangan saling mengunci ( jari diadu
dengan jari merapat ). Atau bisa juga agar lebih rileks,
tangan diluruskan ke bawah (arah kaki), kedua
telapak tangan menempel di paha kiri kanan sebelah
luar.
3. Mata terpejam seakan anda sedang bersiap
menidurkan diri. Bola mata tidak boleh bergerak-gerak,
tahan dalam posisi pejam dan bola mata diam tidak
bergerak, disebut meleng, meneng. Ketika
memejamkan mata ini bola mata diarahkan ke arah
puncak hidung ( mandeng puncaking grono )
4. Kaki lurus dan rileks, telapak kaki kanan
ditumpangkan di atas telapak kaki kiri disebut
sedakep suku tunggal.
Mengumpulkan atau Mengatur Pernafasan.
Tarik pelan nafas melalui hidung sampai di perut, lebih
tepatnya lagi sampai di puser. Tahan. Bawa naik ke
atas terus sampai ubun-ubun. Tahan. Baru bawa ke
bawah samapi mulut dan lepaskan. Lakukan berulang-
ulang. Bawa atau tarik naik turunnya nafas dengan
‘rasa kesadaran’. Ketika ini lidah hendaknya ditekuk ke
atas, ke ‘cethak’. Lakukan beberapa kali ulangan.
Ketika ini harus dibarengi ingat kepada Allah. Cara
praktisnya yaitu ketika menarik nafas hati menyebut
“HU” dan ketika melepas nafas hati menyebut
“ALLAH”.
Lafal HU merujuk pada ADA-Nya, atau Dzat-Nya atau
Pribadi-Nya. Sedangkan lafal ALLAH merujuk pada
Nama-Nya atau panggilan-Nya.
Kemudian pikiran dikosongkan, tidak memikirkan apa-
apa. Obyek pikir atau lebih tepatnya ‘kesadaran rasa
kita’, kita fokuskan ke arah puncak hidung ( yaitu
diantara dua mata kita ). Maka akan nampak cahaya
berpendar. Semakin terang. Kita ikuti denga kesadaran
rasa kita. seakan ada lorong yang panjang bercahaya
keperakan. Kita ikuti saja. Nah…plong…kita atau lebih
tepatnya kesadaran diri kita yang sejati sudah bebas
dari tubuh kita. Sensasi ini yang oleh kebanyakan
orang disebut ‘meraga sukma’ atau ngrogo sukmo.
Nah sampai pada batas ini menjadi sangat krusial.
Karena apa ? Karena apapun yang kita niatkan akan
’sampai’. Artinya obyek kesadaran menjadi sangat
penting. Jika kesadaran Anda kepada alam gaibnya jin
maka otomatis ’sinyal gelombang energi’ Anda akan
bersambung dengan alam jin. Jika obyek kesadaran
Anda adalah para ruh nenek-moyang atau leluhur
maka Anda akan berjumpa dengan leluhur Anda.
Ada satu hal yang sangat penting di sini. Apakah kita
hanya akan ‘mengurusi’ soal benda dan makhluk
saja ? Apakah kesadaran kita akan hanya kita tujukan
untuk mencari ‘ada’ yang bisa rusak dan tidak hakiki
( makhluk ) saja ? Tidakkah kita ingin ‘menjumpai’ Dia
Sang Maha Ada yang tidak akan rusak binasa ( Al-
Kholiq ) ? Dia yang telah menciptakan kita dan juga
alam ini. Dia Yang Maha Ada yang menjadi ‘tempat’
kita berpulang atau kembali nanti.
Mari bertafakur yang sejati. Menemukan-Nya di diri
kita dan juga di diri-diri yang lain. Di diri alam semesta.
Sejatinya dimanapun ‘ada’ itu ada maka disitulah Sang
Maha Ada itu ada. Dia meliputi segala sesuatu. Justru
jika kesadaran kita terhenti pada diri kita saja maka
yang kita temui adalah hanya diri kita. Jika kesadaran
kita ada pada alam jin maka yang kita temui adalah
jin. Jika kesadaran kita ada pada-Nya, bahkan
harusnya itu ’sadar penuh’ maka kita akan ketemu
dengan Dia, Sang Sangkan Paraning Dumadi. Tentu
bertemu dengan-Nya secara tan kinoyo ngopo, laisa
kamitslihi syai’un, tidak bisa digambarkan dengan apa
dan bagaimana.
Salah satu bentuk semedi yang paling dasar dan alami
adalah tidur. Ketika kita tidur maka hakekatnya sama
dengan mati. Ketika tidur inilah diri kita kembali
berada dalam ‘genggaman’-Nya. Nah bayangkan
sendiri jika kita bisa tidur secara ‘advance’. Yaitu badan
kita tidur terlelap namun kesadaran kita bisa tetap
’sadar’ mengikuti kesadaran ‘ruh’ kita yang merupakan
‘min Ruhi’.
Ada lagi semedi dalam bentuk yang sudah ‘advance’
yaitu sholat. Namun sholat dalam pengertian yang
sebenar-benarnya yaitu bukan hanya manembahing
rogo, tetapi juga manembahing rahsa ( sir ) dan
sukma ( ruh ).
Salam Ilmu Sejati,Puji Suci marang Gusti kawulo tansah ngabekti.